Kamis, 07 Juni 2012

ISU PENGGUNAAN SUMBER DAYA ALAM (Tugas Pesda)

Kali ini aku mau berbagi tugasku di semester 3. Pertama kali aku kuliah subjeknya tentang ekonomi yaitu pengantar ekonomi sumber daya alam. Tugas ini aku kumpul tanggal 28 September 2011..wah udah lama banget ya...

Gara-gara tugas ini aku mengetahui suatu sisi seseorang yang berbeda..hahaha...panjang ceritanya..pokoknya tugas ini menggores kenangan mendalam...bukan karena tugasnya.. tapi cerita dibalik pengerjaannya..haha...sok puitis banget...langsung saja...
ISU PENGGUNAAN SUMBER DAYA ALAM
BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar belakang
Sumberdaya alam (SDA) berarti sesuatu yang ada di alam yang bergunaan mempunyai nilai dalam kondisi dimana kita menemukannya. Tidak dapat dikatakan SDA apabila sesuatu yang ditemukan tidak diketahui kegunaannya sehingga tidak mempunyai nilai, atau sesuatu yang berguna tetapi tidak tersedia
dalam jumlah besar disbanding permintaannya sehingga ia dianggap tidak bernilai. Secara ringkasnya, sesuatu dikatakan SDA apabila memenuhi 3 syarat yaitu : 1) sesuatu itu ada, 2) dapat diambil, dan 3) bermanfaat. Dengan demikian, pengertian SDA mempunyai sifat dinamis, dalam arti peluang sesuatu benda menjadi sumberdaya selalu terbuka. Pemahaman mengenai SDA akan semakin jelas jika dilihat menurut jenisnya. Berdasarkan wujud fisiknya, SDA dapat dibedakan menjadi 4 klasifikasi yaitu :
• Sumberdaya Lahan
• Sumberdaya Hutan
• Sumberdaya Air
• Sumberdaya Mineral
Pada dasarnya sumber daya alam ekonomi nasional itu adalah mencakup tenaga kerja, sumber daya alam (terutama tanah,air dan sumber-sumber daya alam lainnya),modal yang diperlukan untuk membiayai pengolahan-pengolahan sumber daya tersebut dan manajemen yang tak bisa diabaikan karena tanpa faktor ini pemanfaatan sumber daya ekonomi tidak akan mencapai harapan. Dalam konteks ekonomi modern akhir-akhir ini sering pula informasi ditambahkan sebagai sumber daya ekonomi baru yang memiliki potensi yang sangat besar untuk mensejahterakan masyarakat.
Dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa, sumber daya alamlah yang pertama dilirik dalam upaya mensejahterakan masyarakatnya. Oleh karena itu, negara yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah sangatlah beruntung karena pada hakikatnya memiliki modal dalam bagi kegiatan-kegiatan ekonominya. Namun demikian, sumber daya alam diatas planet bumi ini pada dasarnya bersifat terbatas. Sumber daya alam yang tak bisa diperbarui seprti mineral  ,batu bara ataupun minyak bumi akan segera terkuras (depleted) manakala persediaannya habis. Sumber daya alam ini disebut nonrenewable source. Bahkan sumber daya alam yang diperbaharui saja harus dijaga pemanfaatannya sebaik-baiknya karena walaupun dapat diperbarui tetapi manakala tidak bijaksana maka nasibnya juga akan sama dengan sumber daya alam yang akan habis dan tak bisa diperbaharui lagi.

Meningkatnya jumlah penduduk bumi menyebabkan peningkatan berbagai kebutuhan, mulai dari pangan, sandang, maupun permukiman. Dibutuhkan juga sumber daya alam lainnya seperti tanah, air, energi, mineral dan lainnya yang diambil dari persediaan sumber daya alam di bumi. Semula kehidupan manusia bumi dikuasai oleh alam namun akhirnya manusialah yang menguasai dan menjadi pusat (antroposentris). Dalam sistem nilai seperti ini lahirlah anggapan bahwa apa yang di bumi ini segala-galanya adalah untuk manusia. Disamping kebutuhan tersebut maka pada manusia terdapat keinginan-keinginan agar kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan untuk kepentingan manusia menyebabkan menipisnya persediaan sumber daya alam. Bahkan sisa-sisa pengolahan berbagai barang akhirnya menimbulkan berbagai bencana.

Mengingat hal-hal diatas yaitu ketidakseimbangan jumlah penduduk dengan tersedianya sumber daya alam mendorong manusia mencari solusi dalam penggunaan sumber daya alam yang terbatas untuk digunakan sebaik-baiknya memenuhi kebutuhan manusia. Akan tetapi, tentu saja mencari solusi tidaklah mudah. Isu-isu penggunaan sumber daya alam biasanya saling terkait dan mempengaruhi aspek lain dari kehidupan manusia seperti tingkat kepuasan manusia, segi pemerintahan ataupun kerusakan lingkungan. Isu-isu penggunaan sumber daya alam sangat penting untuk diketahui karena langkah pertama penyelesaian masalah adalah dengan memahami masalah itu sendiri yakni isu penggunaan sumber daya alam.
2. Tujuan
a. Mengetahui tentang berbagai isu sumber daya alam beserta contohnya.
b. Mengetahui tentang solusi dari isu sumber daya alam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan proses pemulihannya, SDA dibedakan menjadi 3 klasifikasi (Alen, 1959), yaitu :
• Sumberdaya alam yang tidak dapat habis (inexhaustible natural resources), seperti : udara, energy matahari, dan air hujan
• • Sumberdaya alam yang dapat diganti atau diperbaharui dan dipelihara (renewable  esources ), seperti : air di danau/ sungai, kualitas tanah, hutan, dan margasatwa Sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources/ irreplaceable atau stock natural resources ), seperti : batubara, minyak bumi, dan logam.
Dalam penggunaannya, SDA yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui dapat saling melengkapi (komplementer), saling menggantikan (substitusi) atau dapat bersifat netral. Kajian tentang hubungan di antara berbagai penggunaan SDA ini akan sangatbermanfaat pada saat membahas masalah kebijaksanaan dalam pengelolaan SDA.
Ruang lingkup SDA mencakup semua pemberian alam di bawah atau di atas bumi baik yang hidup maupun yang tidak hidup. Pengertian SDA meliputi semua sumberdaya dan sistem yang bermanfaat bagi manusia dalam hubungannya dengan teknologi, ekonomi, dan keadaan social tertentu. Definisi ini berkembang dan sekarang mencakup sistem ekologi dan lingkungan. Setelah lepas dari alam dan dikuasai oleh manusia, maka sumberdaya tersebut disebut barang-barang sumberdaya (resource commodity ). Dari definisi tersebut menjadi  jelas bahwa yangkita ketahui mengenai SDA tergantung pada keadaan yang kita warisi, tingkat teknologi saat ini maupun yang akan datang serta kondisi ekonomi maupun preferensi pasar (Howe, 1979). 
Prinsip umum dalam ilmu ekonomi adalah bagaimana memenuhi kebutuhan umat manusia yang cenderung tidak terbatas dengan ketersediaan sumberdaya yang terbatas atau langka. Kelangkaan  SDA ini merupakan salah satu faktor utama dalam kajian ekonomi yang berwawasan lingkungan dan karena faktor kelangkaan itu pula maka dibutuhkan pengelolaan SDA secara arif dan bijaksana. Tingkat ketersediaan dan kelangkaan sumberdaya memberikan indikasi tentang bagaimana seharusnya mengelola sumberdaya yang langka dimaksud agar tidak mengancam kelestariannya dengan tanpa dan atau meminimalkan terjadinya degradasi lingkungan.
 Macam dan karakterisasi sumberdaya tidak hanya menggambarkan bagaimana pentingnya sumberdaya tersebut tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sebaiknya sumberdaya itu dikelola agar memenuhi kebutuhan umat manusia tidak hanya masa kini, tapi juga masa yang akan datang. Ada 4 (empat) hal yang perlu dicatat dalam mengelola SDA (Irawan, 1992) :
• Biaya pengambilan/ penggalian semakin tinggi dengan semakin menipisnya persediaan SDA tersebut.
• kenaikan dalam biaya pengambilan/ penggalian SDA akan diperkecil dengan diketemukannya deposit baru serta adanya teknologi baru 
• Sebidang tanah tidak hanya bernilai tinggi karena adanya sumberdaya mineral yang terkandung di dalamnya, tetapi juga karena adanya “opportunity cost ” berupa keindahan alam itu.
• Juga perlu diingat dan dibedakan antara penggunaan sumberdaya yangbersifat dapat dikembalikan lagi dan penggunaan sumberdaya yang tak dapat dikembalikan ke keadaan semula (irreversible ) 

Sumberdaya yang menjadi perhatian utama dalam literatur ekonomi lingkungan adalah sumberdaya yang tidak dapatdiperbaharui. Oleh karena itu alokasi yang dinamik dari waktu ke waktu adalah penting untuk menjamin alokasi sumberdaya yang berkelanjutan, diikuti dengan upaya-upaya lain yang bisa menekan kehabisan sumberdaya. Disamping usaha alokasi yangberkelanjutan tersebut, kelangkaansumberdaya mempunyai peluang untuk diatasi yaitu paling tidak melalui 4 cara (Yakin, 1997 : 37) yaitu : 1) eksplorasi dan penemuan ; 2) kemajuan teknologi ; 3) penggunaan sumberdaya substitusi ;dan 4) pemanfaatan kembali (reuse ) dan daur ulang (recycling ).
BAB III
PEMBAHASAN
1.Isu-isu Penggunaan Sumber Daya Alam

a. Kondisi fisik ketersediaan sumberdaya mineral. Tampak bahwa banyak macam bijih logam mulia yang menjadi semakin penting bagi teknologi baru.Ada beberapa deposit yang kaya, tetapi kebanyakan deposit konsentrasi rendah dalam batuan. Deposit yang terakhir ini memerlukan energi yang sangat banyak untuk recoverynya sehingga eksploitasinya sangat mahal.
b. Eksploitasi skala ekonomi. Kemajuan teknologi masa lalu telah mengakibatkan proses produksi lebih efisien pada skala operasi yang lebih besar yang mendorong kemajuan ekonomi hingga terjadi eksploitasi sebesar-besarnya
c. Sifat dari kemajuan teknologi masa depan. Inovasi teknologi pada masa lalu tampaknya bersumber dari eksperimen-eksperimen kecil-kecil yang jumlahnya sangat banyak. Namun sekarang tampaknya diperlukan  program penelitian dan pengembangan yang berskala besar. Keadaan ini akan menghadapi kondisi lingkungan yang berbeda dengan kemajuan yang terjadi di masa lalu 
d. Lingkungan sebagai amenitas dan kendala. Nilai dari kualitas lingkungan yang baik semakin meningkat, sedangkan dampak eksploitasi sumberdaya dengan metode yang padat energi semakin serius. Sementara itu tekonologi pengendalian pencemaran, kemampuan untuk mengendalikan degradasi lingkungan tampaknya masih belum menentu. Kondisi lingkungan dapat menempatkan batas akhir bagi aktivitas manusia. Kemampuan lingkungan untuk mengasimilasi limbah semakin menurun, kepunahan spesies tumbuhan dan hewan mengakibatkan lingkungan menjadi kurang menarik dan lebih rentan terhadap gangguan.
e. Degradasi kualitas sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan hidup, baik di wilayah perkotaan maupun di pedesaan semakin meningkat dan mulai mengancam keberlanjutan pembangunan. Hal ini diakibatkan oleh faktor-faktor berikut:
• Lemahnya penegakan hukum dan rendahnya komitmen penaatan hukum;
• Krisis ekonomi dan moneter serta dampaknya yang berkepanjangan;
•  Hambatan struktural (misalnya masalah hak kepemilikan (property rights);
• Kepedulian Lingkungan yang masih rendah.
f. Kualitas hidup manusia Indonesia yang masih terkendala banyak hal, yang ditunjukkan oleh:
• Prevelensi penyakit yang berasosiasi dengan pencemaran air dan udara;
• Kejadian kematian bayi lahir dan turunnya gizi anak balita;
• Pudarnya budaya dan kearifan masyarakat adat sebagai akibat dari  kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan;
• Menurunnya kualitas kawasan-kawasan konservasi (hutan lindung, taman nasional, suaka marga satwa, dan sebagainya).
g. Perubahan Lingkungan global semakin mengancam mutu lingkungan biosfer sebagai akibat dari:
• Meningkatnya suhu bumi karena efek rumah kaca;  
• Penipisan lapisan ozon;
• Meningkatnya intensitas kerusakan keanekaragaman hayati
h. Pengelolaan SDA-LH telah berkembang menjadi isu politik global dan menentukan arah kerjasama dan hubungan lnternasional;
i.  Pengelolaan SDA-LH sangat ditentukan oleh terselenggarakannya tata cara pemerintahan yang baik (good environmental governance), yakni :
• Lembaga peradilan dan legislatif yang independen, berkeadilan, dan berfungsi sebagai kontrol sosial yang efektif;
• Lembaga birokrasi pemerintahan yang profesional dan memiliki integritas moral yang tinggi;
• Masyarakat yang madani (termasuk organisasi non pemerintahan dan media
• Desentralisasi pengelolaan SDA-LH yang efektif dan berdaya guna

2. Solusi
a. Pengelolaan  SDA dan Lingkungan Hidup dengan Memandang dari Perpekstif Hukum dan Kebijakan Publik
Pembangunan yang telah berlangsung selama tiga dasawarsa lalu lebih berorientasi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (economic growth development) dengan mengeksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi cenderung bersifat eksploitatif dan mengabaikan kaidah-kaidah kelestarian, konservasi, dan keberlanjutan. Konsekuensi yang ditimbulkan adalah timbulnya dampak negatif yang berupa degradasi kualitas sumberdaya alam serta pencemaran lingkungan hidup yang serius seperti yang terjadi di berbagai kawasan di Indonesia. Degradasi kualitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup (ecological losses) secara empiris juga berarti: (1) Menghilangkan sebagian sumbersumber kehidupan dan mata pencaharian masyarakat (economic resources losses); (2) Mengerosi kearifan lokal melalui perusakan sistem pengetahuan, teknologi, institusi, religi, dan tradisi masyarakat lokal (social and cultural losses); dan (3) Mengabaikan hak-hak masyarakat dan kemajemukan hokum dalam masyarakat (the political of legal pluralism ignorance). Dari perspektif hukum dan kebijakan publik, degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup lebih dilihat sebagai akibat dari anutan politik hukum dan kebijakan pemerintah untuk mendukung pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Instrumen hukum (legal instrument) yang diproduk pemerintah dalam bentuk peraturan perundang-undangan (state law) selama kurun waktu tiga dekade terakhir ini cenderung memperlihatkan karakteristik yang bersifat eksploitatif, sentralistik, sektoral, represif, mengabaikan hak-hak masyarakat, dan mengingkari adanya kemajemukan hukum dalam komunitas-komunitas masyarakat. Keadaan tersebut membutuhkan perbaikan hukum yang tetap mendukung pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang berbasis kelestarian lingkungan, khususnya mencakup aspek wawasan, orientasi dan instrumen hukum yang menjamin kelestarian lingkungan hidup, desentralistik, akomodatif terhadap penguatan kelembagaan dan kearifan komunitas lokal. Beberapa isu strategis yang sangat penting di masa mendatang meliputi :
• Pengembangan Peraturan Daerah untuk Penerapan Hukum Lingkungan;
• Pengembangan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Komunitas (community base resources management).
• Melestarikan institusi, tradisi dan kearifan lokal untuk mendukung kegiatan pengembangan SDA-LH

b. Pembangunan SDA-LH Daerah dan  Pemberdayaan  M asyarakat
Pengembangan perekonomian Indonesia seyogyanya didasarkan pada keunggulan komparatif wilayah menuju keunggulan kompetitif, terutama sektor maritim dan agraris, sesuai dengan kompetensi dan produk unggulan daerah terutama pada kegiatan agrokompleks, industri dan kerajinan rakyat. Selain itu juga perlu suatu upaya untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah secara efektif dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah. Aspirasi masyarakat mengisyaratkan perlunya mempercepat pembangunan SDA-LH wilayah dalam kerangka pemberdayaan masyarakat, terutama petani, nelayan, dan penduduk miskin, melalui penyediaan prasarana, pembangunan sistem agribisnis-agroindustri, industri kecil dan kerajinan rakyat, pengembangan kelembagaan, penguasaan teknologi, dan pemanfaatan keunggulan sumberdaya alam dan lingkungan hidup secara lestari. Beberapa isu strategis yang sangat penting di masa mendatang meliputi:
• Penyusunan langkah-langkah strategis dalam mewujudkan good environmental governance di seluruh daerah di Indonesia
• Aktualisasi kaidah-kaidah Otonomi Daerah ke dalam pengembangan SDALH- TEK.
• Pemberdayaan Masyarakat dalam pengelolaan SDA-LH (community base resources management).
• Aktualisasi keunggulan komparatif SDA dalam Pembangunan daerah dan penguatan Ekonomi rakyat.

c. Penanggulangan Kemiskinan
Kemiskinan dan ketertinggalan dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berdampak sangat luas terhadap kehidupan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan. Sebaliknya, menurunnya daya dukung SDA-LH juga dapat menjadi penyebab muncul dan perkembangnya kemiskinan dan ketertinggalan. Suatu rumahtangga / keluarga termasuk miskin kalau tingkat pendapatannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum yang meliputi pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan. Hal ini dapat disebabkan oleh terlalu banyaknya anggota keluarga atau karena rendahnya produktivitas usahanya atau kombinasi keduanya. Rendahnya produktivitas tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kualitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Beberapa isu strategis yang sangat penting di masa mendatang meliputi:
• Pelayanan Kesehatan, Air Bersih Dan Sanitasi Lingkungan (Khususnya Bagi Kemiskinan Perkotaan).
• Pelestarian Fungsi Produksi Dari Sumberdaya Alam Di Wilayah Pedesaan.
• Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Dan Penghasilan Secara Berkelanjutan.
 
d. Optimalisasi Pola Konsumsi SDA
Pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup dalam pembangunan harus dilandasi dengan pendekatan pendayagunaan sumberdaya alam dengan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat secara berkelanjutan. Pola konsumsi sumberdaya alam seharusnya memberi kesempatan dan peran-serta masyarakat serta memberdayakan masyarakat untuk dapat mengelola sumberdaya alam secara optimal dan lestari  Masih sangat terbatas kebijakan yang secara eksplisit mendorong pada pola produksi dan konsumsi yang optimal dan berkelanjutan. 
Dalam sebagian kehidupan masyarakat dan budaya perkotaan telah berkembang gaya hidup  konsumtif, karena sebagian besar mereka tidak lagi mengkonsumsi berdasarkan nilai guna, nilai pakai, tetapi sesuatu yang hanya merupakan simbol di mana image atau citra menjadi sangat penting. Hal ini seiring dengan semakin pesatnya kemajuan dunia informasi dan komunikasi.
Permasalahan Lingkungan seperti pencemaran, degradasi lahan kritis, dan kelangkaan sumberdaya alam akan cenderung berkembang sebagai dampak dari pola produksi/ industri dan konsumsi yang berlebihan. Konsumsi energi meningkat sekitar 8% per tahun. Konsumen terbesar adalah sektor industri (4.9%). Transportasi membutuhkah 32% dan selebihnya adalah untuk kebutuhan rumah tangga. Berubahnya struktur ekonomi dari pertanian ke industri dan meningkainya aktivitas ekonomi di berbagai kehidupan, mempengaruhi Iaju peningkatan konsumsi energi yang secara langsung juga akan meningkatkan emisinya. Untuk mencegah dan mengatasi dampak emisi ini pola konsumsi dan produksi sumberdaya energi perlu segera ditangani secara tepat dan cermat.
Beberapa isu strategis yang sangat penting di masa mendatang meliputi:
• Pola Produksi dan Konsumsi Pangan, dan Kecukupan Gizi;
• Pola Produksi dan Konsumsi Sumberdaya Energi;
• Pola Produksi dan Konsumsi Sumberdaya Air optimal-lestari
• Pola Konservasi air hujan untuk mengatasi kelangkaan air bersih, ancaman kekeringan dan bahaya banjir.

e. Kependudukan dan Tenaga Kerja
Pengembangan sumberdaya manusia sebagai insan menekankan harkat, martabat, hak dan kewajiban manusia, yang tercermin dalam nilai-nilai yang terkandung dalam diri manusia, baik etika, estetika maupun logika, yang meliputi nilai-nilai rohaniah, kepribadian, dan kejuangan. Nilai-nilai tersebut antara lain adalah beriman dan bertaqwa, berakhlaq mulia, mengamalkan ajaran agama dan ilmunya, bersikap amanah, sadar akan harga diri dan bangsa, percaya diri, cerdas, terbuka, demokratis, dan sadar berbangsa dan bernegara.  Upaya untuk menangani masalah-masalah kependudukan dan sumberdaya manusia di Indonesia diarahkan pada pengendalian dinamika kependudukan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan daya saing tenaga kerja di pasar kerja. Beberapa isu strategis yang sangat penting di masa mendatang meliputi:
• Pengembangan Model Integrasi Kependudukan, Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan di tingkat Masyarakat
• Sistem Informasi Kependudukan
• Pemberdayaan Sumberdaya Manusia di Kawasan Khusus
• Ketersediaan lapangan kerja
• Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Pemberdayaan Tenaga-Kerja

f. Penataan Ruang dan Pemukiman
Hal yang lebih penting dalam Pengembangan Permukiman, selain pengadaan rumah untuk tempat tinggal, adalah untuk menciptakan iklim kehidupan yang sehat, secara lingkungan, ekonomi, sosio-budaya, dan politik, yang menjamin berlanjutnya kualitas kehidupan bagi semua orang, di mana semua orang dapat hidup secara lebih sejahtera, mempunyai akses terhadap prasarana dasar dan pelayanan permukiman yang sesuai dan layak, dan mampu memelihara kualitas lingkungan hidupnya. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka perlu:
1. Terjadi pergeseran pandangan dari konsep pembangunan perumahan ke konsep pembangunan permukiman yang menekankan pada keterpaduan sosial, fungsional, dan ekologis; 
2. Menciptakan iklim yang kondusif agar masyarakat pemukim dapat mampu membangun dan memelihara tempat huniannya dalam rangka peningkatan kesejahteraan mereka. 
Beberapa isu strategis yang snagat pending di masa mendatang adalah:
• Pembangunan Perumahan dan Permukiman yang ramah lingkungan
• Pengelolaan Perumahan dan Permukiman yang bersih dan sehat lingkungan.

g. Perlindungan Atmosfer
Penataan Sistem Transportasi dan Penghijauan Kota Pencemaran udara merupakan masalah lingkungan dimasa datang. Sumber utama terjadinya pencemaran udara di Indonesia antara lain : industri padat modal, kendaraan bermotor, aktivitas rumah tangga, penggunaan pupuk nitrogen, dan aktivitas gunung berapi. Keberadaan pabrik semen, pupuk, kertas, gula dan kendaraan bermotor masing-masing akan menghasilkan emisi gas SOx, NOx dan partikulat. Aktivitas rumah tangga dalam pembakaran sampah akan menghasilkan gas CO2. Penggunaan pupuk nitrogen di sawah dalam kondisi anaerob akan dihasilkan gas methan (CH4), serta aktivitas gunung berapi akan dihasilkan gas SOx ke atmosfer. Gas SOx, NOx, CO2 dan partikulat secara potensial akan berdampak terhadap suhu dan kualitas atmosfer. Sedangkan aktivitas gunung berapi yang menghasilkan emisi gas SOx merupakan proses alam yang seoptimal mungkin diantisipasi lebih awal agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan atmosfer. Tujuan utama perlindungan atmosfer adalah: (1) mencegah kadar emisi as dan partikulat di lingkungan atmosfer agar tidak melampaui baku mutu (2) meningkatkan kemampuan lingkungan atmosfer untuk mendaur ulang emisi gas dan partikulat dan (3) mensosialisaikan tentang bahaya dan resiko akibat emisi gas dan partikulat yang melampaui baku mutu. Beberapa isu strategis yang sangat penting di masa mendatang adalah:
• Integrasi dan Peningkatan Pertimbangan Lingkungan dan Langkah- Langkah Efisiensi Dalam Pembangunan sumberdaya Energi
• Meningkatkan Kemampuan dan Langkah-Langkah strategis Untuk Menangani Permasalahan pencemaran udara.
• Peningkatan Kemampuan dan Langkah-Langkah Untuk Menghadapi Perubahan Iklim Global
• Meningkatkan Kemampuan Untuk Menghadapi Potensi Polutan Udara akibat transportasi .

h.  Pengelolaan Sampah dan Limbah
Pertumbuhan penduduk dan industri yang sangat pesat berpotensi menjadi penyebab  erakumulasinya limbah padat dan cair di lingkungan. Limbah padat maupun cair yang belum dikelola dengan baik menyebabkan kualitas lingkungan perairan sungai atau sumber air serta udara menurun. Fenomena tersebut telah terjadi dan sangat merugikan kesehatan lingkungan. Misalnya sampah, limbah padat dan cair dari rumah tangga maupun pabrik dibuang ke sungai, maka akan menurunkan kualitasa air sungai. Sampah rumah tangga yang belum ditangani dengan baik, sering dibakar akan menghasilkan gas CO yang berbahaya bagi lingkungan manusia. Aktivitas penduduk dan industri sehari-hari akan menghasilkan limbah padat maupun cair. Aktivitas penduduk dan industri sangat diperlukan dalam proses pembangunan. terbatasnya dana dan jumlah SDM dalam mengelola bahan-bahan tersebut. Meskipun sudah ada sarana dan prasarana tersebut di atas, masyarakat masih cenderung untuk melanggar peraturan yang ada karena komitmen moral yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan dan lemahnya sistem dalam pranata hukum yang ada. Beberapa strategi pendekatan untuk mencapai tujuan adalah: (1) Meningkatkan kualitas SDM, terutama kemampuen teknologi dalam mengelola limbah padat dan cair, (2) Meningkatkan kerjasama dengan LSM yang berkecimpung dalam bidang pengelolaan limbah padat dan cair untuk peduli terhadap lingkungan, (3) Meminimkan limbah di lingkungan dan mencoba mengembangkan limbah yang ada untuk didaur ulang sehingga lebihberma nfaat dan menurunkan pencemaran lingkungan Beberapa isu strategis yang snagat pending di masa mendatang adalah:
• Efektivitas langkah-langkah untuk Minimisasi Limbah dan sampah
• Maksimasi Teknologi Daur Ulang dan Pengomposan Limbah dan sampah yang Ramah Lingkungan
• Pemberdayaan masyarakat dalam usaha pegelolaan sampah.
• Pembuangan dan Pengelolaan Limbah Yang Akrab Lingkungan .

i. Pengelolaan Sumber Daya Hutan
Hutan merupakan potensi alam sebagai salah satu common property resources yang sangat berharga, mengingat beragam fungsi yang sangat vital bagi keberlanjutan kehidupan lokal, nasional maupun global. Penyusutan luas hutan dapat terjadi karena kebakaran hutan, penebangan yang tidak terencana secara cermat atau disebabkan karena pencurian serta alih fungsi. Khususnya penyusutan luas hutan karena pencurian melalui penebangan liar. Hal tersebut menunjukkan indikasi bahwa secara umum masih terdapat kesenjangan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan. 
Telah terjadi perubahan paradigma pengelolalaan hutan yaitu: menuju pegelolaan hutan secara berkelanjutan yang mana selama ini menempatkan pengelolaan hutan sebatas forest timber management menjadi forest resource and total ecosystem management sehingga hutan diharapkan dapat berfungsi sebagai ekologis, sosial budaya dan produksi/ekonomi secara terpadu. 
 Fungsi sosial budaya diupayakan untuk semakin melibatkan peran serta masyarakat, terutama masyarakat sekitar kawasan hutan . Disamping itu sebagai fungsi ekonomi diupayakan berfungsi sebagai penyangga keberlanjutan sistem produksi, konservasi dan pendaya manfaatan kekayaan yang terkandung di dalamnya serta untuk berbagai penggunaan secara terpadu. Beberapa isu strategis yang snagat pending di masa mendatang adalah:
• Evaluasi, Perencanaan dan Pengembangan Program Rehabilitasi dan Reboisasi serta Perlindungan Hutan Secara Berkelanjutan.
• Pemantapan dan Pembuatan Peraturan, Kelembagaan Pengelolaan Hutan Secara Berkelanjutan Berbasis Partisipasi dan Kearifan Masyarakat Lokal.
• Pengelolaan Hutan secara Berkelanjutan bersama masyarakat (Community forest management system)
• Sistem Informasi dan Pendataan Pengelolaan Potensi Hutan Secara Berkelanjut
BAB IV
KESIMPULAN
1.Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan, beberapa kesimpulan dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Sumberdaya Alam (SDA) sebagai salah satu unsur yang menentukan perkembangan ekonomi daerah. Struktur perekonomian daerah didominasi oleh SDA (pertanian, pertambangan dan galian).
• Upaya Pengelolaan SDA merupakan suatu keharusan. Hal ini mengingat ketersediaan SDA terbatas.
• Pengelolaan SDA Daerah memerlukan kebijakan yang bersifat konseptual, aspiratif, dan aplikatif. Oleh karena itu, pengelolaan secara partisipatif dengan mempertimbangkan penilaian secara menyeluruh dan terkoordinasi sesuai dengan kondisi dan peran masing-masing pemangku kepentingan.

2. Saran
Sesuai dengan Pengembangan Konsep Pengelolaan SDA harusdisesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah sendiri maka diharapkan :
• Konsep Pengelolaan SDA secara terpadu merupakan salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. Hal ini karena implikasinya yang sangat luas, disamping untuk kepentingan membuat berbagai kebijakan, juga yang terutama adalah bertujuan untuk memperkuat perekonomian nasional
• Dalam rangka Penerapan suatu konsep pengelolaan SDA diperlukan penelitian/ pengkajian awal yang matang.
DAFTAR PUSTAKA
Sukirno, Sadono.2008. Mikroekonomi:Teori Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Solihin, Amir dan Rija Sudirja.2007. Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Terpadu untuk Memperkuat Perekonomian Lokal. Soilrens Vol.8
Wirakusumah, Sambas.2003. Mendambakan Kelestarian Sumber Daya Hutan. Jakarta : UI Press

0 komentar:

Poskan Komentar